Minggu, 09 Desember 2012

cerpen


INSYAF KU
Dentuman keras music yang tak beraturan, suasana remang hanya diterangi kelap kelip lampu warna warni, tak ada yang mempedulikan satu sama lain mereka hanya mengincar kesenangan dan kepuasan belaka, ditemani minuman yang membuat mereka melayang, tubuh mereka berlenggak lenggok mengikuti iringan music yang dimainkan, keringat yang mengucur terus membasahi tubuh orang orang yang sedang menikmati surga dunia bagi mereka tanpa memikirkan panasnyanya api neraka yang menanti mereka, Seorang gadis cantik dengan tinggi sekitar 173 dengan kulit putih mulusnya yang hanya tertutup celana jeans pendek 20 cm di atas lutut dipadankan dengan tanktop kuning duduk duduk disudut ruangan, dia tengah asyik menyesap rokoknya ditemani secangkir kecil minuman yang bewarna hitam pekat, seolah asyik dengan dunianya sendiri tanpa memikirkan orang orang di sekitarnya, kecantikannya tertutup dengan aura kusut diwajahnya, seakan mengalami masalah yang berat. Dira gadis yang masih berumur 16 tahun sekolah di sma pelita, kelakuan ayahnya membuat dia depresi dan melarikan semua itu dengan clubbing. Menurutnya itu cara terbaik mengatasi masalahnya.
“ Ra, Diraaaa” panggil seorang lelaki pada gadis tersebut
“ ada apa Van,,” jawabnya tak bersemangat
“ kenapa muka lho, kusut amat ?”
“ biasa van bokap gue mau nikah lagi, entah yang ini untuk keberapa kalinya “ terangnya sambil mengusap wajahnya yang kusut
“ udah Ra nggak usah dipikirin lagi, mendingan kita happy happy di sini. Gue ada obat nihh buat nenangin pikiran lho biar nggak kusut terus, untuk pertama ini gratis buat lho ” Ivan menyerahkan sebotol obat plus jarum suntiknya dengan senyuman misterius
“obat apaan ini van “ Tanya dira bingung
“ udah lho coba aja, gue jamin dehh, kalo lho udah nyobain obat ini pikran lho akan tenang, lho seakan melayang menikmati semuanya, sini gue  suntikkan ama lho” tawa Ivan pada dira
            Tanpa persetujan dira lagi Ivan menyuntikkan obat tersebut, dan benar saja dira merasa dirinya terbang, masalahnya hilang semua, masalah keluarganya, masalah sekolahnya, begitu banyak masalah yang menimpa dira akhir akhir ini dan berkat obat tersebut dira bisa tenang dan melupakan masalahnya. Melihat dira yang sudah mabuk berat ivan menggandeng dira kemobil untuk mengajaknya pulang. Seminggu, dua minggu bahkan bulan demi bulan jika ada masalah dira selalu melarikan diri pada obat yang diberikan ivan tentunya tidak gratis lagi, bagi dira hanya obat itu lah yang bisa menyelesaikan masalahnya, tidak ada lagi aura cantik pada diri dira sekarang hanya ada dira dengan wajah yang kusut, layu,  perlahan tubuhnya mengurus dengan tatapan yang kosong. Ayah dira yang asyik dengan puluhan perusahaan dan istri istri barunya tidak mempedulikan dira lagi, semenjak kematian ibu dira satu tahun yang lalu akibat terkena serangan jantung karena mendengar kabar bahwa ayah dira memiliki perempuan lain selain dirinya. Dan itulah yang menyebabkan dira tidak pernah lagi percaya pada laki laki, padahal banyak teman laki laki di sekolah yang ingin dekat dengannya.
“ ra dira, melamun aja “ tegur intan teman sebangku dira
“ eh elo ntan, ada apa tan?” jawab dira kaget
“ lo tadi disuruh ibu rina untuk menemuinya, beliau bilang ada yang ingin disampaikan dengan lo” terang intan pada gea
“ oh, ya udah kalu gitu geu mau kesana dulu”
            Intan hanya memandang kepergian dira, temanya itu memang terkesan dingin dan tertutup tetapi orangnya pintar banyak prestasi yang telah diraihnya, sebelum ibunya meninggal dira masih sering bertegur sapa pada temannya, tapi setelah kejadian satu tahu lalu dira tambah tertutup bahkan terkesan misterius, intan pernah bertanya pada dira tentang masalah apa yang sedang ia alami tetaoi bukannya bukannya jawaban yang ia dapat melainkan bentakkan dari dira, intang hanya tersenyum kecut mengingat masalah itu, “ sekarang dira telah berubah” gumamnya dalam hati.
“tok tok…. Permisi bua apa ibu mencari saya “ jelas dira pada ibu rina
“ oh, iya dira silahkan duduk”
“ada apa bu “ Tanya dira tanpa basa basi
“ begini dira, ibu perhatikan bulan bulan terakhir ini kamu berubah, apa kamu ada masalah atau sakit? “ Tanya ibu rina pada dira
“ semua orang punya masalah bu, apa harus diceritain ke orang orang” jawab dira dingin
“ ibu tahu dira, tapi jika kamu mau membagi masalah kamu, kita bisa menyelesaikannya “
“tidak perlu bu, saya bisa menyelesaikannya sendiri” jelas dira ketus sambil berlalu meninggalkan ibu rina
            Semenjak kejadian itu dira tidak pernah masuk sekolah lagi kerjaannya hanya mengurung diri dikamar, berpesta dengan barang haram, clubbing dengan teman temannya, Mbok nah pembantu dira sangat prihatin melihat kelakuan dira sekarang gadis yang diasuhnya dari kecil tersebut benar benar berubah, Tuan besar sudah 5 bulan tidak pulang kerumah batin mbok nah. Dira sekarang sering merasakan sakit, Batuk batuk, mulut dan tubuhnya ditumbuhi bercak bercak merah. Siang ini dira merasakan pusing dikepalanya yang tak tertahankan penglihatannya kabur badannya limbung dan dira tak sadarkan diri.
            Putih itu kesan yang dira dapat setelah matanya terbuka, kepalanya sudah tidak pusing lagi, ia merasakan infus  bergelayut manja ditangannya. Dira mengamati sekelilingnya, disampingnya terlihat mbok nah yang tengah tertidur lelap, dira menggerakkan sedikit tangannya dan menyentuh tangan mbok nah.
“ eh non dira udah sadar” mbok nah yang terbangun dari tidurnya
“ dira di mana mbok’
“ non dira lagi dirumah sakit, kemarin non dira pingsan dikamar jadi mbok dan mang ujang membawa non dira kesini” jelas mbok nah dengan muka sedihnya
Dira hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan dari mbok nah
“ kata dokter dira sakit apa mbok ?”
Mbok nah terlihat ragu menjawabnya “ begini non kata dokter ferdian, non Dira terkena Virus HIV”
Bagai terkena petir siang hari, tubuh dira bergetar, setitik benda bening jatuh kepipinya, dira hanya diam, Kenapa begitu banyak masalah yang ia dapatkan
“non dira nggak apa apa?” Tanya mbok nah pada dira
“ nggak apa apa mbok, apa papa udah di kasih tahu?”
“Belum non, mbok sudah menghubungi tuan tetap hp nya sibuk terus”
“ mbok dira mau minta tolong, jangan beritahu penyakit dira ini kepada siapapun terutama papa, ngerti kan mbok”
“iya non, yang terpenting sekarang non dira sekarang istirahat dulu, tenangin pikiran non, kta dokter ferdian penyakit non dira bisa di sembuhkan” kata mbok nah sambil memeluk dan mengusap punggung dira.
“tok tok” pintu kamar tempat dira dirawat terbuka dengan munculnya seorang dokter muda yang ganteng
“eh dokter ferdian” mbok nah menyapa  dokter ferdian sambil melepaskan pelukannya dengan dira
Dokter ferdian hanya tersenyum manis kepada dira dan mbok nah
“ kita periksa dulu ya dira” kata dokter ferdian dengan dira, dira hanya mengangguk pasrah, dokter ferdian memeriksa keadaan dira yang mulai membaik.
“gimana dok ?” Tanya dira pada dokter ferdian
“ boleh kita bicara berdua” Tanya dokter ferdian pada dira seakan tahu apa yang dimaksud mbok nah permisi keluar ruangan.”
“ sudah berapa lama kamu mengkonsumsi barang tersebut” Tanya dokter ferdian pada dira
“ sekitar 6 bulan yang lalu, apa ada kemungkinan sembuh “ Tanya dira to the point
Dokter ferdian hanya diam
“kita hanya bisa berserah pada Allah” jawab dokter ferdian
“dok, mendingan saya mati saja dari pada saya hidup seperti ini “ tak terasa air mata dira meluncur dengan mudahnya membasahi pipi dira
“kamu tidak boleh bicara seperti itu, semua pasti akan baik baik saja dan kamu pasti bisa sembuh” ternga dokter ferdian menenangkan
“saya sudah tidak tahan lagi dok” kata dira lirih
“terlalu banyak dosa tang saya lakukan, saya hanya ingin ketenangan mungkin jika saya mati saya akan tenang”
“minta ampunlah pada Allah”
“ Apakah Allah masih mau mengampuni saya yang penuh dosa ini?”
“Dira Allah itu maha pengampun, lakukanlah taubatab nashuha, jalankanlah perintahnya insyaallah Allah akan mengapuni kamu” jelas dokter ferdian pada dira
“Tetapi dok saya tidak tahu caranya”
“Saya akan membimbing kamu “ kata dokter ferdian pasti
“beneran dok ?” Tanya dira dengan penuh harapan
Dokter ferdian mengangguk diringi senyumannya
“ dok saya mau minta tolong lagi pada dokter tolong rahasiakan penyakit saya dengan keluarga saya, kecuali mbok nah karena dia sudah tahu duluan
“iya, kalau itu memang kemauan kamu”
             Setelah kepulangan dira dari rumah sakit, sekarang dira sudah memakai jilbab, bercak merah ditubuh dira semakin banyak, ayahnya pernah menanyakan perihal kenapa dira memakai jilbab tetapi dira hanya menjawabnya dengan misterius, walaupun pengobatan terus dilakukan oleh dira tetapi penyakitnya terus bertambah parah, Virus HIV tambah mengrogoti tubuhnya, dokter ferdian selalu melakukan pengecekan terhadap dira, dia sudah berusaha memberikan pengobatan terbaik, dokter ferdian mengusulkan dira dibawa ke Singapore saja untuk pengobatan yang lebih baik tetapi dira menolak dengan halus usulan dari dokter ferdian, diran sekarang sudah berubah 180°, tidak satupun teman teman dira mengetahui keberadaan dira karena dira kini hanya tinggal sebuah vila ayahnya ditemani oleh mbok nah dan dokter ferdian yang sesekali menjenguknya untuk mengecek keadaan dira.
            Setiap sore dira duduk ditaman dengan melafazhkan asma Allah, memuji nama Allah tidak banyak yang bisa dira lakukan karena tubuhnya mulai melemah, ia hanya ingin menikmati sisa  hidupnya yang tinggal sebentar lagi walaupun tidak dijelaskan oleh dokter ferdian, iya tahu bahwa keadaannya semakin parah. Entah kenapa sore itu ayah dira mengunjunginya dan bermalam di Villa  yang dira tempati, seperti kebiasaan dira akhir akhir ini ia selalu bangun dipertiga malam untuk bermunajat kepada Rabb Nya. Dira melirik ke kamar ayahnya, ia melihat wajah tenang ayahnya yang sedang tidur, dira berlalu untuk melanjutkan niat awalnya. Saat sujud kedua dira merasakan pusing yang tak tertahankan diselingi batuk dengan ikhlas dira mengucap dua kalimat syahadat ia menutup matanya dengan tenang. Ayah dira yang melihat anaknya tengah sujud hanya tersenyum memperhatikannya tetapi ada keanehan yan ia lihat kenapa dira tak beranjak dari sudutnya. Ayah dira menghampiri putrid semata wayangnya itu saat ia menepuk pundah dira, dira hanya tergolek pasrah.
“ra, diraaa” ayah dira berusaha membangukan putrinya tetpai dira tak kunjung bangun, ayahanya mengecek denyuk nadi dira, seakan benda berat menimpanya, tangan kekar itu gemetar memeluk putrid semata wayangnya, ia terhenyak menemukan putri semata wayangnya itu tidur dengan damai menghadap sang ilahi.
“diraaaa,,,” jerit ayahnya dengan air mata yang tak tertahankan lagi meluncur dengan derasnya
“ dira sayang janga tinggalin ayah nak, ayah kesini karena mau kumpul dengan dira lagi, ayah mau berubah nak…”  ayah dira menangis dengan tersedu sedu sambil memeluk anaknya mbok nah yang terbagun mendengar jeritan tuannya juga menangis tersdu sedu, melihat majikan yang selama ini ia rawat sudah tiada.
            Sesudah pemakaman dira berlangsung, murung masih terlihat jelas di wajah ayahnya dira, ia terus merutuki dirinya karena selama ini tidak memberikan perhatian pada dira, ia mengutuk bahwa dial ah penyebab kematian dira. Dia menyesal tidak mengetahui penyakit dira dari awal. Penyesalan kini tinggal penyesalan
“ Apakah anda bapak Gunawan, ayahnya dira” seorang lelaki yang masih muda dan ganteng tersunyum melihat kea rah ayahnya dira
“ iya betul, kamu siapa?” Tanya ayahnya dira pada ferdian
“ Saya ferdian pak, dokter yang selama ini merawat dira
Pak Gunawan hanya diam
“saya tida menyangka dira akan pergi secepat in, saat terakhir saya memeriksa kondinsinya, dira menitipkan ini pada saya pak, ia minta tolong berikan ini pada anda pak” jelas ferdian  sambil memberikan sebuah surat, ayahnya dira langsung membuka surat tersebut
Untuk Ayah ku tersayang
Ayah…
Dira sangat merindukan ayah,
Setiap malam dira menantikan kepulangan ayah
Hanya untuk melihat senyum ayah
Setiap malam dira menangis
Menantiak kehangatan yang dulu pernah tercipta
Dira selalu bermunajat agar itu semua kembali ayahh
Maafkan dira ayah,,
Karena dira telah menjadi anak yang tidak baik dan membuat ayah malu
Jaga kesehatan ayah
Dira harap ayah bisa merubah kebiasaan buruk  ayah
Love u ayahhh
Yang selalu merindukan mu
Dira
Ayah dira melipat surat dari anaknya, setitik air bening jatuh kepipinya, Ayah akan berubah nak bathin nya dalam hati. Seandainya kamu masih ada disin ayah akan mengabulkan semuanya saying. Ayah juga menyayangimu nak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar