INSYAF
KU
Dentuman
keras music yang tak beraturan, suasana remang hanya diterangi kelap kelip
lampu warna warni, tak ada yang mempedulikan satu sama lain mereka hanya
mengincar kesenangan dan kepuasan belaka, ditemani minuman yang membuat mereka
melayang, tubuh mereka berlenggak lenggok mengikuti iringan music yang
dimainkan, keringat yang mengucur terus membasahi tubuh orang orang yang sedang
menikmati surga dunia bagi mereka tanpa memikirkan panasnyanya api neraka yang
menanti mereka, Seorang gadis cantik dengan tinggi sekitar 173 dengan kulit
putih mulusnya yang hanya tertutup celana jeans pendek 20 cm di atas lutut
dipadankan dengan tanktop kuning duduk duduk disudut ruangan, dia tengah asyik
menyesap rokoknya ditemani secangkir kecil minuman yang bewarna hitam pekat,
seolah asyik dengan dunianya sendiri tanpa memikirkan orang orang di
sekitarnya, kecantikannya tertutup dengan aura kusut diwajahnya, seakan
mengalami masalah yang berat. Dira gadis yang masih berumur 16 tahun sekolah di
sma pelita, kelakuan ayahnya membuat dia depresi dan melarikan semua itu dengan
clubbing. Menurutnya itu cara terbaik mengatasi masalahnya.
“
Ra, Diraaaa” panggil seorang lelaki pada gadis tersebut
“
ada apa Van,,” jawabnya tak bersemangat
“
kenapa muka lho, kusut amat ?”
“
biasa van bokap gue mau nikah lagi, entah yang ini untuk keberapa kalinya “
terangnya sambil mengusap wajahnya yang kusut
“
udah Ra nggak usah dipikirin lagi, mendingan kita happy happy di sini. Gue ada
obat nihh buat nenangin pikiran lho biar nggak kusut terus, untuk pertama ini
gratis buat lho ” Ivan menyerahkan sebotol obat plus jarum suntiknya dengan
senyuman misterius
“obat
apaan ini van “ Tanya dira bingung
“
udah lho coba aja, gue jamin dehh, kalo lho udah nyobain obat ini pikran lho
akan tenang, lho seakan melayang menikmati semuanya, sini gue suntikkan ama lho” tawa Ivan pada dira
Tanpa persetujan dira lagi Ivan
menyuntikkan obat tersebut, dan benar saja dira merasa dirinya terbang,
masalahnya hilang semua, masalah keluarganya, masalah sekolahnya, begitu banyak
masalah yang menimpa dira akhir akhir ini dan berkat obat tersebut dira bisa
tenang dan melupakan masalahnya. Melihat dira yang sudah mabuk berat ivan
menggandeng dira kemobil untuk mengajaknya pulang. Seminggu, dua minggu bahkan bulan
demi bulan jika ada masalah dira selalu melarikan diri pada obat yang diberikan
ivan tentunya tidak gratis lagi, bagi dira hanya obat itu lah yang bisa
menyelesaikan masalahnya, tidak ada lagi aura cantik pada diri dira sekarang
hanya ada dira dengan wajah yang kusut, layu, perlahan tubuhnya mengurus dengan tatapan yang
kosong. Ayah dira yang asyik dengan puluhan perusahaan dan istri istri barunya
tidak mempedulikan dira lagi, semenjak kematian ibu dira satu tahun yang lalu akibat
terkena serangan jantung karena mendengar kabar bahwa ayah dira memiliki
perempuan lain selain dirinya. Dan itulah yang menyebabkan dira tidak pernah
lagi percaya pada laki laki, padahal banyak teman laki laki di sekolah yang
ingin dekat dengannya.
“
ra dira, melamun aja “ tegur intan teman sebangku dira
“
eh elo ntan, ada apa tan?” jawab dira kaget
“
lo tadi disuruh ibu rina untuk menemuinya, beliau bilang ada yang ingin
disampaikan dengan lo” terang intan pada gea
“
oh, ya udah kalu gitu geu mau kesana dulu”
Intan hanya memandang kepergian
dira, temanya itu memang terkesan dingin dan tertutup tetapi orangnya pintar
banyak prestasi yang telah diraihnya, sebelum ibunya meninggal dira masih sering
bertegur sapa pada temannya, tapi setelah kejadian satu tahu lalu dira tambah
tertutup bahkan terkesan misterius, intan pernah bertanya pada dira tentang
masalah apa yang sedang ia alami tetaoi bukannya bukannya jawaban yang ia dapat
melainkan bentakkan dari dira, intang hanya tersenyum kecut mengingat masalah
itu, “ sekarang dira telah berubah” gumamnya dalam hati.
“tok
tok…. Permisi bua apa ibu mencari saya “ jelas dira pada ibu rina
“
oh, iya dira silahkan duduk”
“ada
apa bu “ Tanya dira tanpa basa basi
“
begini dira, ibu perhatikan bulan bulan terakhir ini kamu berubah, apa kamu ada
masalah atau sakit? “ Tanya ibu rina pada dira
“
semua orang punya masalah bu, apa harus diceritain ke orang orang” jawab dira
dingin
“
ibu tahu dira, tapi jika kamu mau membagi masalah kamu, kita bisa
menyelesaikannya “
“tidak
perlu bu, saya bisa menyelesaikannya sendiri” jelas dira ketus sambil berlalu
meninggalkan ibu rina
Semenjak kejadian itu dira tidak
pernah masuk sekolah lagi kerjaannya hanya mengurung diri dikamar, berpesta
dengan barang haram, clubbing dengan teman temannya, Mbok nah pembantu dira sangat
prihatin melihat kelakuan dira sekarang gadis yang diasuhnya dari kecil
tersebut benar benar berubah, Tuan besar sudah 5 bulan tidak pulang kerumah
batin mbok nah. Dira sekarang sering merasakan sakit, Batuk batuk, mulut dan
tubuhnya ditumbuhi bercak bercak merah. Siang ini dira merasakan pusing
dikepalanya yang tak tertahankan penglihatannya kabur badannya limbung dan dira
tak sadarkan diri.
Putih itu kesan yang dira dapat
setelah matanya terbuka, kepalanya sudah tidak pusing lagi, ia merasakan infus bergelayut manja ditangannya. Dira mengamati
sekelilingnya, disampingnya terlihat mbok nah yang tengah tertidur lelap, dira
menggerakkan sedikit tangannya dan menyentuh tangan mbok nah.
“
eh non dira udah sadar” mbok nah yang terbangun dari tidurnya
“
dira di mana mbok’
“
non dira lagi dirumah sakit, kemarin non dira pingsan dikamar jadi mbok dan
mang ujang membawa non dira kesini” jelas mbok nah dengan muka sedihnya
Dira
hanya tersenyum kecut mendengar penjelasan dari mbok nah
“
kata dokter dira sakit apa mbok ?”
Mbok
nah terlihat ragu menjawabnya “ begini non kata dokter ferdian, non Dira
terkena Virus HIV”
Bagai
terkena petir siang hari, tubuh dira bergetar, setitik benda bening jatuh
kepipinya, dira hanya diam, Kenapa begitu banyak masalah yang ia dapatkan
“non
dira nggak apa apa?” Tanya mbok nah pada dira
“
nggak apa apa mbok, apa papa udah di kasih tahu?”
“Belum
non, mbok sudah menghubungi tuan tetap hp nya sibuk terus”
“
mbok dira mau minta tolong, jangan beritahu penyakit dira ini kepada siapapun
terutama papa, ngerti kan mbok”
“iya
non, yang terpenting sekarang non dira sekarang istirahat dulu, tenangin
pikiran non, kta dokter ferdian penyakit non dira bisa di sembuhkan” kata mbok
nah sambil memeluk dan mengusap punggung dira.
“tok
tok” pintu kamar tempat dira dirawat terbuka dengan munculnya seorang dokter
muda yang ganteng
“eh
dokter ferdian” mbok nah menyapa dokter
ferdian sambil melepaskan pelukannya dengan dira
Dokter
ferdian hanya tersenyum manis kepada dira dan mbok nah
“
kita periksa dulu ya dira” kata dokter ferdian dengan dira, dira hanya
mengangguk pasrah, dokter ferdian memeriksa keadaan dira yang mulai membaik.
“gimana
dok ?” Tanya dira pada dokter ferdian
“
boleh kita bicara berdua” Tanya dokter ferdian pada dira seakan tahu apa yang
dimaksud mbok nah permisi keluar ruangan.”
“
sudah berapa lama kamu mengkonsumsi barang tersebut” Tanya dokter ferdian pada
dira
“
sekitar 6 bulan yang lalu, apa ada kemungkinan sembuh “ Tanya dira to the point
Dokter
ferdian hanya diam
“kita
hanya bisa berserah pada Allah” jawab dokter ferdian
“dok,
mendingan saya mati saja dari pada saya hidup seperti ini “ tak terasa air mata
dira meluncur dengan mudahnya membasahi pipi dira
“kamu
tidak boleh bicara seperti itu, semua pasti akan baik baik saja dan kamu pasti
bisa sembuh” ternga dokter ferdian menenangkan
“saya
sudah tidak tahan lagi dok” kata dira lirih
“terlalu
banyak dosa tang saya lakukan, saya hanya ingin ketenangan mungkin jika saya
mati saya akan tenang”
“minta
ampunlah pada Allah”
“
Apakah Allah masih mau mengampuni saya yang penuh dosa ini?”
“Dira
Allah itu maha pengampun, lakukanlah taubatab nashuha, jalankanlah perintahnya
insyaallah Allah akan mengapuni kamu” jelas dokter ferdian pada dira
“Tetapi
dok saya tidak tahu caranya”
“Saya
akan membimbing kamu “ kata dokter ferdian pasti
“beneran
dok ?” Tanya dira dengan penuh harapan
Dokter
ferdian mengangguk diringi senyumannya
“
dok saya mau minta tolong lagi pada dokter tolong rahasiakan penyakit saya
dengan keluarga saya, kecuali mbok nah karena dia sudah tahu duluan
“iya,
kalau itu memang kemauan kamu”
Setelah kepulangan dira dari rumah sakit,
sekarang dira sudah memakai jilbab, bercak merah ditubuh dira semakin banyak,
ayahnya pernah menanyakan perihal kenapa dira memakai jilbab tetapi dira hanya
menjawabnya dengan misterius, walaupun pengobatan terus dilakukan oleh dira
tetapi penyakitnya terus bertambah parah, Virus HIV tambah mengrogoti tubuhnya,
dokter ferdian selalu melakukan pengecekan terhadap dira, dia sudah berusaha memberikan
pengobatan terbaik, dokter ferdian mengusulkan dira dibawa ke Singapore saja
untuk pengobatan yang lebih baik tetapi dira menolak dengan halus usulan dari
dokter ferdian, diran sekarang sudah berubah 180°, tidak satupun
teman teman dira mengetahui keberadaan dira karena dira kini hanya tinggal
sebuah vila ayahnya ditemani oleh mbok nah dan dokter ferdian yang sesekali
menjenguknya untuk mengecek keadaan dira.
Setiap sore dira duduk ditaman
dengan melafazhkan asma Allah, memuji nama Allah tidak banyak yang bisa dira
lakukan karena tubuhnya mulai melemah, ia hanya ingin menikmati sisa hidupnya yang tinggal sebentar lagi walaupun
tidak dijelaskan oleh dokter ferdian, iya tahu bahwa keadaannya semakin parah.
Entah kenapa sore itu ayah dira mengunjunginya dan bermalam di Villa yang dira tempati, seperti kebiasaan dira
akhir akhir ini ia selalu bangun dipertiga malam untuk bermunajat kepada Rabb
Nya. Dira melirik ke kamar ayahnya, ia melihat wajah tenang ayahnya yang sedang
tidur, dira berlalu untuk melanjutkan niat awalnya. Saat sujud kedua dira
merasakan pusing yang tak tertahankan diselingi batuk dengan ikhlas dira
mengucap dua kalimat syahadat ia menutup matanya dengan tenang. Ayah dira yang
melihat anaknya tengah sujud hanya tersenyum memperhatikannya tetapi ada
keanehan yan ia lihat kenapa dira tak beranjak dari sudutnya. Ayah dira
menghampiri putrid semata wayangnya itu saat ia menepuk pundah dira, dira hanya
tergolek pasrah.
“ra,
diraaa” ayah dira berusaha membangukan putrinya tetpai dira tak kunjung bangun,
ayahanya mengecek denyuk nadi dira, seakan benda berat menimpanya, tangan kekar
itu gemetar memeluk putrid semata wayangnya, ia terhenyak menemukan putri
semata wayangnya itu tidur dengan damai menghadap sang ilahi.
“diraaaa,,,”
jerit ayahnya dengan air mata yang tak tertahankan lagi meluncur dengan
derasnya
“
dira sayang janga tinggalin ayah nak, ayah kesini karena mau kumpul dengan dira
lagi, ayah mau berubah nak…” ayah dira
menangis dengan tersedu sedu sambil memeluk anaknya mbok nah yang terbagun
mendengar jeritan tuannya juga menangis tersdu sedu, melihat majikan yang
selama ini ia rawat sudah tiada.
Sesudah pemakaman dira berlangsung,
murung masih terlihat jelas di wajah ayahnya dira, ia terus merutuki dirinya
karena selama ini tidak memberikan perhatian pada dira, ia mengutuk bahwa dial
ah penyebab kematian dira. Dia menyesal tidak mengetahui penyakit dira dari
awal. Penyesalan kini tinggal penyesalan
“
Apakah anda bapak Gunawan, ayahnya dira” seorang lelaki yang masih muda dan
ganteng tersunyum melihat kea rah ayahnya dira
“
iya betul, kamu siapa?” Tanya ayahnya dira pada ferdian
“
Saya ferdian pak, dokter yang selama ini merawat dira
Pak
Gunawan hanya diam
“saya
tida menyangka dira akan pergi secepat in, saat terakhir saya memeriksa kondinsinya,
dira menitipkan ini pada saya pak, ia minta tolong berikan ini pada anda pak”
jelas ferdian sambil memberikan sebuah
surat, ayahnya dira langsung membuka surat tersebut
Untuk Ayah ku tersayang
Ayah…
Dira sangat merindukan ayah,
Setiap malam dira menantikan
kepulangan ayah
Hanya untuk melihat senyum ayah
Setiap malam dira menangis
Menantiak kehangatan yang dulu
pernah tercipta
Dira selalu bermunajat agar itu
semua kembali ayahh
Maafkan dira ayah,,
Karena dira telah menjadi anak yang
tidak baik dan membuat ayah malu
Jaga kesehatan ayah
Dira harap ayah bisa merubah
kebiasaan buruk ayah
Love u ayahhh
Yang selalu merindukan mu
Dira
Ayah
dira melipat surat dari anaknya, setitik air bening jatuh kepipinya, Ayah akan
berubah nak bathin nya dalam hati. Seandainya kamu masih ada disin ayah akan
mengabulkan semuanya saying. Ayah juga menyayangimu nak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar