PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Ilmu psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku atau psikis individu dalam lingkungan. Dalam
jurnalistik tentu ilmu psikologi sangat berhubungan erat, seorang jurnalis
dalam mewawancarai harus mengetahui watak atau sifat seseorang yang menjadi
narasumber dan untuk mengetahui hal tersebut ilmu psikologilah yang
mempelajarinya.
Di dalam ilmu psikologi kita
mempelajari materi kecerdasan atau disebut dengan Inteligensi. Kecerdasan
adalah kemampuan seseoarang untuk memberikan suatu tanggapan yang baik terhadap
suatu yang diterimanya. Di dalam makalah ini akan kita bahas mengenai
kecerdasan secara lebih rinci lagi.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
yang dimaksud dengan kecerdasan ?
2. Apa
yang dimaksud alat ukur kecerdasan ?
3. Jelaskan
teori teori mengenai kecerdasan ?
4. Apa
yang dimaksud Multiplle Inteligence ?
PEMBAHASAN
A. Defenisi
Kecerdasan
Menurut William
Stern kecerdasan atau intelligence merupakan suatu kapasitas atau kecakapan
umum pada individu secara sadara untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi
yang dihadapinya. Tetapi menurut Carl Whitherrington kecerdasan adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam
kemampuan kemampuan atau kegiatan kegiatan seperti berikut ini :
a. Facility
in the use of numbers yaitu fasilitas dalam menggunakan bilangan dan angka.
b. Language
efficiency yaitu efesien penggunaan bahasa.
c. Speed
of perpection yaitu kecepatan dalam pengamatan.
d. Facility
in memorizing yaitu fasilitas dalam mengingat.
e. Facility
in comprehending relationship yaitu fasilitas dalam memahami hubungan.
f. Imagination
yaitu menghayal.
Seorang
ahli yang bernama S.C. Utami Munandar merumuskan secara umum intelligence
sebagai berikut :
a. Kemampuan
untuk berfikir abstrak.
b. Kemampuan
untuk menangkap hubungan – hubungan dan untuk belajar.
c. Kemampuan
untuk menyesuaikan diri terhadap situasi situasi baru.
Edward
Thorndike mendefenisikan intelligence is demonstrable in ability of the
individual to make good responses from the stand point of the truth or fact
atau dapat diartikan kecerdasan adalah
kemampuan individu untuk memberikan respons yang tepat ( baik ) terhadap
stimulasi yang diterimanya. Menurut George D. Stodard kecerdasan adalah
kecakapan dalam menyatakan tingkah laku yang mempunyai ciri - ciri berikut
tertentu.
Jadi dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan
atau intelligence adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh sesorang dalam
bidang apapun dan individu tersebut dapat menjalankan serta mengembangkan kemampuan yang ia miliki
dengan baik.
B. Alat
Ukur Kecerdasan
Pengukuran
kecerdasan ada tiga yaitu IQ ( kecerdasan intelektual ), EQ ( Kecerdasan
emosional ), SQ ( Kecerdasan spiritual ). Keceerdasan intelektual bisa diukur
karena bersifat kuantitatif. Alat ukur kecerdasan intelektual sebagai berikut :
a. Tes Binet Simon
Alat ukur kecerdasan kognitif pertama kali dibuat
oleh Alfred Binet dan Theodore Simon pada tahun 1905 atas
permintaan pemerintah Perancis, berkenaan dengan kasus kegagalan belajar
murid-murid sekolah. Tes yang mereka buat diperuntukkan anak usia 2 sampai
dengan 15 tahun. Cara yang mereka tempuh untuk mengukur kemampuan tersebut
adalah dengan membandingkan usia mental (mental
age) dengan usia kronologis (chronological
age).
b. Konsep Intelligence
Quotient ( IQ )
Telah
disebutkan bahwa dalam mengukur taraf kecerdasan kognitif, Binet dan Simon
membandingkan usia mental dengan usia kronologis. Rumus ini dipakai dengan
asumsi bahwa seorang anak dinyatakan normal kemampuannya bila dirinya mampu
melakukan tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan seperti yang dilakukan oleh
kebanyakan anak seusianya. Selanjutnya
untuk menghindari adanya angka pecahan, hasil bagi tersebut dikali seratus.
Dengan demikian rumus tersebut dapat ditulis sebagai berikut.
Sedangkan untuk kecerdasan emosi
(EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), hingga saat ini belum ada alat yang dapat
mengukurnya dengan jelas karena dua kecerdasan tersebut bersifat kualitatif
bukan kuantitatif.
Orang yang
memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi dapat dilihat selain
dari hasil tes, dapat terlihat juga bahwa biasanya orang tersebut :
- Memiliki kemampuan matematis
- Memiliki kemampuan membayangkan ruang
- Melihat sekeliling secara runtun atau menyeluruh
- Dapat mencari hubungan antara suatu bentuk dengan bentuk lain
- Memiliki kemampuan untuk mengenali, menyambung, dan merangkai kata-kata serta mencari hubungan antara satu kata dengan kata yang lainya, Memiliki memori yang cukup bagus.
Seseorang
dengan kecerdasan emosi (EQ) tinggi diindikatori memiliki hal-hal sebagai
berikut :
- Sadar diri, panada mengendalikan diri, dapat dipercaya, dapat beradaptasi dengan baik dan memiliki jiwa kreatif,
- Bisa berempati, mampu memahami perasaan orang lain, bisa mengendaikan konflik, bisa bekerja sama dalam tim,
- Mampu bergaul dan membangun sebuah persahabatan,
- Dapat mempengaruhi orang lain,
- Bersedia memikul tanggung jawab,
- Berani bercita-cita,
- Bermotivasi tinggi,
- Selalu optimis,
- Memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan
- Senang mengatur dan mengorganisasikan aktivitas.
Tanda dari
orang –orang yang memiliki SQ yang berkembang dengan baik/tinggi :
- Mampu bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
- Memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi
- Mampu untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
- Mampu untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
- Memiliki kualitas hidup yang didasari oleh visi dan nilai-nilai
- Menghindari hal-halyang dapat menyebabkan kerugian yang tidak perlu
- Cenderung untuk memandang segala hal itu berkaitan (holistik)
- Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar
- Mandiri SQ yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang memiliki “makna” dalam hidupnya. Dengan “makna” hidup ini seseorang akan memiliki kualitas “menjadi”, yaitu suatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara produktif dan dapat menyatu dengan dunia.
C. Teori Kecerdasan
Raymon Cattel dkk., mengklasifikasikan inteligensi ke dalam
dua kategori, yaitu:
a. Fluid intelligence (kecerdasan cair)
b.
Crystallized intelligence (kecerdasan Kristal)
Teori ini dicetuskan pada 1960-an oleh Raymond Cattell and
John Horn. Teori kecerdasan ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori
General Intelegence. Dalam teori kecerdasan cair dan kecerdasan kristal
dinyatakan bahwa ada dua macam kecerdasan umum.
a.
Fluid intelligence (kecerdasan cair)
Kecerdasan cair adalah kecerdasan yang berbasis pada sifat
biologis. Kecerdasan cair meningkat sesuai dengan pertambahan usia, mencapai
puncak pada saat dewasa dan menurun pada saat tua karena proses biologis
tubuh.Intelegensi fluid cenderung tidak berubah setelah usia 14 tahun atau 15
tahun,
b. Crystallized intelligence (kecerdasan Kristal)
b. Crystallized intelligence (kecerdasan Kristal)
kecerdasan Kristal adalah kecerdasan yang diperoleh dari
proses pembelajaran dan pengalaman hidup. Jenis kecerdasan ini dapat terus
meningkat, tidak ada batasan maksimal, selama manusia masih bisa dan mau
belajar. Inteligensi Crystallized masih terus berkembang sampai usia 30-40
tahun bahkan lebih.
Teori
kecerdasan menurut para ahli yaitu :
1.
Teori“TwoFactors”
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpen¬dapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan mi yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.
Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman (1904). Dia berpen¬dapat bahwa inteligensi itu meliputi kemampuan umum yang diberi kode “g” (general factors), dan kemampuan khusus yang diberi kode “s” (specific factors). Setiap individu memiliki kedua kemampuan mi yang keduanya menentukan penampilan atau perilaku mentalnya.
2.
Teori“PrimaryMentalAbilities”
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bah¬wa inteligensi merupakan penjelmaan dan kemampuan primer, yaitu (a) kemampuan berbahasa: verbal comprehension (b) kemampuan mengingat: memory (c) kemampuan nalar atau berpikir logis reasoning (d) kemampuan tilikan ruang spatial factor (e) kemampuan bilangan numerical ability (I) kemampuan menggunakan kata-kata: word fluency dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat perceptual speed.
Teori ini dikemukakan oleh Thurstone (1938). Dia berpendapat bah¬wa inteligensi merupakan penjelmaan dan kemampuan primer, yaitu (a) kemampuan berbahasa: verbal comprehension (b) kemampuan mengingat: memory (c) kemampuan nalar atau berpikir logis reasoning (d) kemampuan tilikan ruang spatial factor (e) kemampuan bilangan numerical ability (I) kemampuan menggunakan kata-kata: word fluency dan (g) kemampuan mengamati dengan cepat dan cermat perceptual speed.
3.
Teori
Multiple Intelligence
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dan tiga kategori dasar atau faces of intellect.
Teori ini dikemukakan oleh J.P. Guilford dan Howard Gardner. Guilford berpendapat bahwa inteligensi itu dapat dilihat dan tiga kategori dasar atau faces of intellect.
D. Multiple Intelligence atau Kecerdasan Ganda
Teori Kecerdasan Ganda (Multiple
Inteligence) yang dikemukakan oleh Howard Gardner – seorang professor psikologi
dari Harvard University – akan dijadikan acuan untuk lebih memahami bakat dan
kecerdasan individu.
Jerold E. Kemp dan kawan-kawan mengemukakan (1996) beberapa karakteristik individu siswa yang perlu dipahami antara lain :
• Age and maturity level
• Motivation and attitude toward subject
• Expectation and vocational level
• Special Talent
• Mechanical Dexterity
• Ability to work under various enviro condition.
Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu dipahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal.
Jerold E. Kemp dan kawan-kawan mengemukakan (1996) beberapa karakteristik individu siswa yang perlu dipahami antara lain :
• Age and maturity level
• Motivation and attitude toward subject
• Expectation and vocational level
• Special Talent
• Mechanical Dexterity
• Ability to work under various enviro condition.
Salah satu karakteristik penting dari individu yang perlu dipahami oleh guru sebagai pendidik adalah bakat dan kecerdasan individu. Guru yang tidak memahami kecerdasan anak didik akan memiliki kesulitan dalam memfasilitasi proses pengembangan potensi individu menjadi yang dicita-citakan. Generalisasi terhadap kemampuan dan potensi individu memberikan dampak negatif yaitu siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengebangkan secara optimal pternsi yang aa pada dirinya. Akibat penanganan salah seperti yang dilakukan oleh sistem persekolahan saat ini kita telah kehilangan bakat-bakat cemerlang. Individu-individu yang cerdas tidak dapat mengembangkan potensi diri mereka secara optimal.
Dikenal sebagai kecerdasan ganda
(Multiple Intelligence) atau biasa disingkat dengan MI. Ketujuh jenis
kecerdasan tersebut adalah musical/rhythmic intelligence bodily/kinesthetic
intelligence, logical/mathematical intelligence, visual/spatial intelligence,
verbal/linguistic intelligence, interpersonal intelligence, dan
intrapersonal intelligence (dalam perkembangannya ditambah satu jenis
kecerdasan sehingga menjadi delapan, yakni naturalistic intelligence).
1. Kecerdasan musical
Gardner
menyebut kecerdasan musical ini dengan istilah musical/ rhythmic
intelligence. Kecerdasan musical (KM) adalah kemampuan untuk
menghasilkan dan mengapresiasi musik. Kemampuan ini meliputi menyanyi, bersiul,
memainkan alat-alat musik, mengenal pola-pola nada, membuat komposisi musik,
mengingat melodi, memahami struktur dan irama musik. Gardner telah
mengidentifikasi bahwa inti dasar KM musical meliputi aspek irama, pola
titinada, harmoni, dan timber, tetapi dia segera mengusulkan adanya kekuatan
emosional misterius dari musik. Dia menunjukkan beberapa fakta untuk mendukung
teorinya bahwa kemampuan musikan berfungsi seperti sebuah intelegensi, yakni
apa yang oleh composer disebut sebagai logical musical thinking
dan musical mind (101-2). Kecerdasan musik merupakan kecerdasan yang
paling awal berkembang dalam diri manusia (Grow, 2005).
2. Kecerdasan Kinesthetic
Jenis kecerdasan ini berkaitan dengan pengendalian gerakan badan. Pengenalian
gerakan badan ini terletak di korteks motoris dengan setiap belahan otak
mendominasi atau mengendalikan gerakan badan di sisi yang berlawanan (Gardner,
1983). Orang yang cerdas secara kinesthetic akan lebih mudah menirukan dan
menciptakan gerakan. Seorang olahragawan yang cerdas kinesthetic akan dapat menyelesaikan
dan mencari alternatif gerakan. Penyelesaian gerakan tentu berbeda dengan
penyelesaian persamaan matematika, sehingga dalam hal ini orang yang cerdas
gerak badan boleh jadi tidak cerdas secara matematik dan sebaliknya.
3. Kecerdasan logical/mathematical
Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan
angka-angka dan bilangan, berpikir logis dan ilmiah, adanya konsistensi dalam
pemikiran.. Seseorang yang cerdas secara logika-matematika seringkali tertarik
dengan pola dan bilangan/angka-angka. Mereka belajar dengan cepat operasi
bilangan dan cepat memahami konsep waktu, menjelaskan konsep secara logis, atau
menyimpulkan informasi secara matematik. Kecerdasan ini amat penting karena
akan membantu mengembangkan keterampilan berpikir dan logika seseorang. Dia
menjadi mudah berpikir logis karena dilatih disiplin mental yang keras dan
belajar menemukan alur piker yang benar atau tidak benar. Di samping itu juga
kecerdasan ini dapat membantu menemukan cara kerja, pola, dan hubungan,
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mengklasifikasikan dan
mengelompokkan, meningkatkan pengertian terhadap bilangan dan yang lebih
penting lagi meningkatkan daya ingat.
4. Kecerdasan visual/spatial
Kecerdasan
ini ditunjukkan oleh kemampuan seseorang untuk melihat secara rinci gambaran
visual yang terdapat di sekitarnya. Seorang seniman dapat memiliki kemampuan
persepsi yang besar. Bila mereka melihat sebuah lukisan, mereka dapat melihat
adanya perbedaan yang tampak di antara goresan-goresan kuas, meskipu orang lain
tidak mampu melihatnya. Dengan mengamati sebuah foto, seorang fotografer dapat
membuat analisis mengenai kelemahan atau kekuatan dari foto tersebut seperti
arah datangnya cahaya, latar belakang, dan sebagainya, bahkan mereka dapat
memberi jalan keluar bagaimana seandainya foto itu ditingkatkan kualitasnya.
Kecerdasan ini sangat dituntut pada profesi-profesi seperti fotografer,
seniman, navigator, arsitek. Pada orang-orang ini dituntut untuk melihat secara
tepat gambaran visual dan kemudian member arti terhadap gambaran tersebut.
5. Kecerdasan verbal/linguistik
Orang-orang
yang memiliki kecerdasan ini memiliki kemampuan untuk menyusun pikirannya
dengan jelas. Mereka juga mampu mengungkapkan pikiran dalam bentuk kata-kata
seperti berbicara, menulis, dan membaca. Orang dengan kecerdasan verbal ini
sangat cakap dalam berbahasa, menceriterakan kisah, berdebat, berdiskusi,
melakukan penafsiran, menyampaikan laporan dan berbagai aktivitas lain yang
terkait dengan berbicara dan menulis. Kecerdasan ini sangat diperlukan pada
profesi pengacara, penulis, penyiar radio/televisi, editor, guru.
6. Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan
ini berkait dengan kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain.
Pada saat berinteraksi dengan orang lain, seseorang harus dapat memperkirakan
perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan teman interaksinya,
kemudian memberikan respon yang layak. Orang dengan kecerdasan Interpersonal
memiliki kemampuan sedemikian sehingga terlihat amat mudah bergaul, banyak
teman dan disenangi oleh orang lain. Di dalam pergaulan mereka menunjukkan
kehangatan, rasa persahabatan yang tulus, empati. Selain baik dalam membina
hubungan dengan orang lain, orang dengan kecerdasan ini juga berusaha baik dalam
menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perselihanan dengan
orang lain. Kecerdasan ini amat penting, karena pada dasarnya kita tidak dapat
hidup sendiri (No man is an Island). Orang yang memiliki jaringan sahabat yang
luas tentu akan lebih mudah menjalani hidup ini. Seorang yang memiliki
kecerdasan “bermasyarakat” akan (a) mudah menyesuaikan diri, (b) menjadi orang
dewasa yang sadar secara sosial, (b) berhasil dalam pekerjaan
7. Kecerdasan intrapersonal
Kecerdasan
intrapersonal diperlihatkan dalam bentuk kemampuan dalam membangun persepsi
yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam
membuat rencana dan mengarahkan orang lain
8. Kecerdasan naturalistik
Keahlian
mengenali dan mengkategorikan spesies-flora dan fauna di lingkungannya. Para
pecinta alam adalah contoh orang tergolong sebagai orang – orang yang memiliki
kecerdasan ini. Konsep MI merupakan kritik terhadap Psychometric yang biasa
digunakan untuk mengukur kecerdasan manusia yang hanya bertumpu pada kekuatan
otak kiri manusia. Selama ini pengukuran kecerdasan hanya pada aspek
kuantitatif (logical) dan verbal. Manusia yang memiliki skor rendah berdasarkan
tes tersebut dianggap memiliki tingkat kecerdasan rendah atau biasa disebut IQ (intelligence
quotion) rendah. Pengukuran kecerdasan dengan IQ dalam perkembangannya
dianggap tidak representatif, karena ada banyak fakta manusia dengan IQ rendah
tetapi ternyata dalam hidupnya lebih sukses daripada orang yang mempunyai
tingkat IQ tinggi. Orang dengan IQ yang pas-pasan ternyata dapat mempunyai
keahlian yang hebat dalam bidang-bidang tertentu, seperti ahli melukis, ahli
olah raga, ahli menyanyi, dan lain-lain. Kekuatan yang mendorong tes-tes MI
adalah bahwa tes-tes yang biasa dilakukan inkonsisten terhadap teori-teori
ilmiah besar yang mapan. MI bukanlah suatu domain atau disiplin ilmu
tersendiri. Konsep MI merupakan suatu jenis konstrak baru, tetapi MI tidak sama
dengan style atau gaya pembelajaran, gaya kognitif, atau gaya bekerja (Gardner,
1995).
MI sebagai suatu konsep baru
berdampak pada pembuatan desain dan kurikulum sekolah. Teori MI
menganjurkan bahwa ada beberapa kecerdasan manusia yang relatif
independen dan dapat dijadikan mode dan dikombinasikan dalam keserbaragaman
cara agar sesuai dengan masing-masing individu dan budaya. Independensi
masing-masing jenis kecerdasan ini dapat ditunjukkan pada kasus orang tidak
dapat menguasai matematika, tetapi dia amat cepat membuat atau memahami arti
keindahan sebuah lukisan atau komposisi lagu. Kasus lainnya, seorang yang tidak
dapat memiliki kemampuan verbal dan spatial tetapi sangat cerdas dalam
gerak/kinesthetik. Dalam diri manusia mungkin terdapat satu, dua, tiga atau
lebih jenis kecerdasan yang menonjol. Jenis kecerdasan ini meungkin selanjutnya
berkaitan dengan learning style dan life style.
DAFTAR
PUSTAKA
Azwar, Saifuddin, 2006. Pengantar Psikologi Inteligensi. Edisi I,
Cetakan V. Yogyakarta: Pustaka PelajarGardner, Howard. 2003. Kecerdasan Majemuk, Teori Dalam Praktek. Batam: Interaksara
http://mynamemirza.wordpress.com/2012/06/09/teori-kecerdasan-ganda-multiple-intelligence-dan-penerapannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar